Jakarta - Keterangan direktur anggota asosiasi FIFA, Thierry Regenass, di depan peserta Kongres PSSI dinilai tidak memuaskan. Orang Prancis itu terlihat tidak menguasai, tidak meyakinkan, dan ragu-ragu.
Regenass menjadi perwakilan FIFA yang boleh jadi sangat ditunggu-tunggu masyarakat sepakbola Indonesia. Ia adalah orang FIFA yang menyetujui statuta PSSI di Kongres 2009 di Ancol, yang membolehkan Nurdin Halid terus memimpin PSSI walaupun pernah terpidana.
Selanjutnya Regenass juga ditengarai terlibat dalam keputusan-keputusan terkait PSSI yang mengatasnamakan FIFA, termasuk kasus penolakan empat nama termasuk George Toisutta dan Arifin Panigoro, untuk mengikuti bursa pemilihan PSSI tahun ini.
Diminta alasan penolakan tersebut, Regenass antara lain menyebut Arifin Panigoro terlibat dalam kompetisi yang di luar sistem federasi, yakni Liga Primer Indonesia. Hal itu merupakan hal yang tabu buat FIFA, ujarnya. Namun, dia tidak menyebut alasan apapun perihal penolakan pada George.
"Dari omongannya, ternyata dia tidak menguasai masalahnya. Yang dia gunakan adalah keputusan Komite Banding tanggal 28 Februari, yang padahal itu tidak ada. Yang benar adalah keputusan Banding tanggal 25 Februari. Permasalahannya adalah, kenapa tidak dilakukan investigasi," tutur pengamat sepakbola Tondo Widodo kepada detiksport, Jumat (20/5/2011).
Mengenai pernyataan Regenass soal LPI, Tondo mengatakan hal itu mengada-ada.
"Saya pikir itu merupakan suatu pembelokan dari hal yang sebenarnya. Bisa juga semacam kebohongan publik."
"Dan ketika diserang balik, mukanya merah padam. Ia kelihatannya tidak lebih tahu statuta FIFA ketimbang peserta kongres. Kesimpulan saya, dia tidak menguasai masalah, dia hanya menerima laporan yang salah. Cara dia juga tidak meyakinkan, ragu-ragu, dan mempercepat omongannya supaya mempersulit orang untuk menangkapnya," simpul Tondo.
( a2s / roz )
Friday, May 20, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment